PromoDomino
SerbaQQ
HobiCasino
Home » , , , , , , , , » Main Adegan Panas Sama Kak Susi Yang Cantik (Part 3) | CeritaDewasaKami

Main Adegan Panas Sama Kak Susi Yang Cantik (Part 3) | CeritaDewasaKami

Written By Melisa Chen on Rabu, 06 Juli 2016 | 01.26.00

Main Adegan Panas Sama Kak Susi Yang Cantik (Part 3)


Karena ternyata bukan hanya pada memek kakak gue, di lain waktu juga terjadi hal yang sama ketika melakukan kepada memek cewek gue.


“Ouuughhhh… Faaaan…!! Aaahhh… Nikmaaaat… Nggghhhh…!!” kakak gue menjerit-jerit keenakan.

Setelah beberapa menit, Kak Susi akhirnya bisa mencapai orgsme dengan lidah gue “Ouuuuhhh… Oooooohhh… Enngh… Eeenngh… Kakak sampeeee Fan…” Agen Domino

Gue yang sudah sejak tadi terangsang, langsung menindihnya lagi. Kemudian menggesek-gesekkan ****** gue ke memeknya. Kak Susi sempat mengingatkan kembali agar gue tidak memasukan ****** gue ke dalam memeknya. Memang aku sempat berpikiran untuk tidak menghiraukan perkataannya, namun yang seperti ini juga sudah cukup enak. Namun tetap saja kadang-kadang birahi ini sulit untuk dikendalikan. Bahkan hampir saja kepala kontolku masuk ketika gue melakukan gerakan mendorong. Agen Domino99

“Bentar dulu Fan…” kata Kak Susi yang kemudian merubah posisinya menjadi posisi duduk.
Gue hanya menatapnya dengan tatapan tidak rela karena harus kehilangan kenikmatan yang dari tadi sedang gue rasakan.

Ternyata kesabaran gue berbuah manis. Karena saat itu perbuatan kami semakin panas saja ketika Kak Susi ingin menyepong ****** gue sambil tangan gue mulai bekerja di kedua payudaranya. Sungguh terasa nikmat sekali ketika ****** gue dihisap seperti sekarang. Apalagi kenyataan bahwa yang melakukan adalah cewek cantik yang merupakan kakak kandung gue sendiri. Agen Poker

Gue semakin menerawang kemudian memejamkan mata karena inilah kenikmatan yang belum pernah gue rasakan sebelumnya.

“Kaaak…!! Enaknyaaaa…!!” kata gue sambil menikmati dorongan hebat pada ****** gue ini.

Saat Kak Susi sedang mengulum dan menyedot-nyedot kemaluan gue, dia mulai mengeluarkan suara-suara erotis diantara keluar dan masuknya ****** ini ke dalam mulutnya. Saat gue kembali membuka mata, gue melihat tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Tidak heran badannya ikut bergetar saat mengulum ****** gue. Agen QQ

“Sluuurrrp… Hmmmm…” terdengar suara desahan Kak Susi yang sungguh merangsang.

Ketika ****** gue sudah tidak tahan menerima rangsangan, gue sempat memberi tanda karena sperma di dalam akan segera keluar. Kak Susi mengerti dan melepaskan hisapannya. Dia lalu telentang dan membuka lebar-lebar memeknya. BandarQ Online

Belahan memek berwarna merah muda itu sepertinya sudah siap menerima rudal gue.

Namun hal tersebut harus gue urungkan karena Kak Susi kemudian berkata “Tumpahin di sini Fan… Jangan dimasukin yah…”

Setengah tidak rela, gue pun paham dengan maksudnya. Maka ketika gue orgasme gue menyemprotkan sperma tersebut ke arah memeknya.

“Aaaah…!! Kak Indaaaaah… Oooooh…” aku meneriakkan namanya ketika sperma gue keluar dalam jumlah yang tidak dapat dibilang sedikit.

Sebagian bahkan ikut masuk ke dalam daging merah dan sisanya lagi mengotori sekitar perut Kak Susi.
Gue dan Kak Susi lalu saling berperlukan, hingga akhirnya dia tidur di kamar gue tanpa ada kecurigaan dari orangtua kami. Begitulah kisah malam yang panas dengan kakak gue sendiri. Sejak saat itu, gue dan kak Susi jadi semakin abrab. Bahkan Kak Susi secara terus terang bercerita bahwa dirinya sudah sering ngentot dengan pacarnya, namun tentu saja dia tidak membolehkan gue sebagai adiknya melakukan hal yang sama.

Kami berdua tetap sering mengadakan acara mesum seperti malam tersebut, Terutama ketika Kak Susi sedang meminta bantuan. Gue mengajukan syarat agar upahnya berupa pelayanan birahi. Tapi gue tetap tidak sampe memasukan ****** ke dalam memeknya.

Hingga pada suatu malam, gue yang sedang terangsang berniat sekali akan melakukan perbuatan mesum dengan Kak Susi. Tapi gue dongkol karena Ketika Kak Susi pulang ke rumah malah membawa temannya, bahkan kakak gue berkata bahwa dia akan menginap disini. Namanya adalah Santi, yang merupakan teman kuliahnya. Santi memang merupakan teman baik Kak Susi. Sudah sangat sering dia maen ke rumah, makanya gue sebenarnya sudah cukup akrab dengannya.

Karena niat gue terganggu dengan keberadaan Santi, maka sambil cemberut gue menonton TV tanpa ada niat mengobrol dengan mereka. Jika Kak Susi dan Santi bertanya, maka gue males-malesan menjawabnya. Martabak telor yang di bawa oleh kakak gue pun tidah selera untuk disantap. Kak Susi malah senyum-senyum saja melihat kelakuan gue begini sambil melahap martabak bawaannya.

“Adik lu jutek banget sih Ndah?” tanya Santi yang tidak mengerti dengan kelakuan gue yang berubah 180 derajat.

“Tau tuh… Salah makan kali…” canda kakak gue yang sepertinya sudah paham dengan aksi gue ini.

“Apa mungkin sakit Ndah? Liat aja tuh mukanya sampe pucet kayak gitu…” lanjut Santi yang masih penasaran.

“Hah? Burungnya kali yang sakit… Hehehe…” Kak Susi tertawa yang kemudian juga diikuti dengan ejekan Santi kepada gue.

Jadilah kedua cewek cantik itu menggoda gue terus-menerus. Mereka saling melempar kata dengan obyek penderitanya adalah gue yang sedang horny berat!

“Gue mau pipis dulu ya…” kata Santi kemudian pergi ke belakang.

Dia memang sudah tidak asing lagi dengan rumah ini. Jadi tidak perlu minta diantar seperti layaknya tamu baru.

“Kakak ngapain sih bawa santi nginep segala?” tanya gue ketika Santi sudah menghilang.

“Lah? Emang kenapa sih?” jawab Kak Susi dengan enteng.

Gue terus memarahi Kak Su si, sementara kakak gue tidak begitu peduli. Dia malah cengar–cengir saja menanggapinya. Bener juga memang, tidak ada salahnya teman-temannya pada menginap. Yang jadi masalahnya sekarang gue sedang ingin sekali berbuat mesum sama Kak Susi.

“Ndah… Pinjem kaos buat tidur dong… Sekalian celana pendeknya…” ujar Santi dari belakang.

Gue dibuat kaget setengah mati karena ketika Santi berjalan, dia tidak mengenakan sehelai benang pun alias telanjang bulat! Pakaian yang dia kenakan semula kini sudah berada di dalam genggaman tangannya. Tubuh Santi sungguh terlihat bagus. Sudah langsing, payudara besar menggantung hingga kulit yang putih.

“Udah lu tidur telanjang aja kayak gitu Sant…” kata Kak Susi asal.

“Tuh… Si Irfan aja doyan ngeliatin lu terus… Hehehe…” ledek Kak Susi sambil melihat ke arah gue yang masih terpaku dengan tubuh Santi.

Gue yang tersadar segera mengalihkan pandangan ketika mendengar ucapan Kak Susi seperti itu.

Lagi-lagi kedua cewek itu cekikian menggoda gue. Langsung saja gue pura-pura menonton TV saja.

Tanpa dapat diduga, tiba-tiba saja Santi mendekati tempat duduk gue.

“Gue tidur di kamar lu aja ya Fan…” ujar Santi pelan.

Santi lalu duduk di pangkuan gue. Dia kini menciumi wajah serta leher gue. Payudaranya yang tidak kalah besar dengan Kak Susi, mulai digesek-gesekkan ke dada gue. Tentu saja kelakuannya membuat gue terangsang berat. Namun gue tetap berlagak jual mahal. Bersambung..


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ayo Gabung dan Dapatkan Bonus Referral senilai 10% - 20% dan Bonus Cashback 0.3% - 0.5% Hanya di 


WWW.PROMODOMINO.COM

------------------------------------------------------------------

Untuk Info Lebih Lanjut Bisa Hubungi Contact Dibawah Ini :

Pin BB : 7AB0D494
YM     : promodomino@yahoo.com
Wechat : promo_domino
Skype  : promodomino
facebook : Promodomino.com

Ceritadewasakami.com - Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex, Cerita Birahi, Cerita Mesum, Cerita Bokep, Cerita Panas, Cerita Seks, Cerita Bokep Indo

0 comments:

Posting Komentar